Balada Pena dan Buku Tulis
Anak-anak menyatukan orang dewasa. Kali ini dengan cara yang ironis.
Rabindranath
Tagore suatu kali pernah menulis jika anak-anak punya kemampuan menyatukan
orang dewasa. Dia dalam liburan bersama keluarganya di Benggala Barat, India
ketika masih menempuh pendidikan di bangku universitas. Ia mengamati semua
orang dewasa bersatu menimpali kenakalan-kenakalan kecil anak-anak mereka,
meski mereka sendiri hemat bicara karena kesulitan menemukan topik. Ia menilai,
selain polos dan inosen, anak-anak punya kemampuan menyatukan orang dewasa.
Bayangkan sepasang suami-istri yang sama-sama melakukan silent treatment di
sebuah rumah yang hanya ditinggali bertiga bersama anak tunggal. Seandainya si
anak tidak ada, sulit dibayangkan bagaimana silent treatment itu akan berakhir.
Jauh dari Benggala Barat, gagasan
Tagore kembali terbukti. Berulang. Namun dalam narasi yang ironis. Seorang anak
kecil kelas IV SD, berusia 10 tahun, di Ngada, NTT, meninggalkan sepucuk surat
sebelum mengakhiri hidupnya. Surat itu gempar. Semua orang mempercakapkan
kejanggalannya. Bertanya-tanya mengapa anak sekecil itu bertindak absurd. Apakah
itu wajar. Tanpa bermaksud mengulanginya di sini, kita tahu persoalan itu jauh
dari sekedar urusan pena dan buku tulis, atau bantuan pendidikan, atau dokumen
kependudukan. Terdapat sistem yang membentuk keputusan itu.
Tagore,
dalam beberapa karya seperti Dak Ghar (Kantor Pos) dan Phatik
(anak yang tidak diinginkan) berkata, penderitaan makin sulit
dipahami ketika menimpa anak-anak. Ia menyaksikan penderitaan anak-anak India akibat
tekanan lingkungan miskin, kurangnya kasih sayang, dan kakunya sistem pendidikan.
Penyebab penderitaan anak-anak dalam kisah-kisah Tagore itu akibat ‘mainan’
orang dewasa. Orang dewasa menciptakan lingkungan, sistem, dan pranata sosial
yang membentuk sikap mental anak. Tidak ada derita yang inheren akibat tindakan
mereka sendiri. Tagore rupanya melihat terdapat hubungan sebab-akibat dalam
persoalan derita. Mirip cara kerja karma. Atau seperti ‘apa yang kau tanam,
itulah yang kau tuai’, sehingga ia tidak mengerti derita pada anak-anak. Anak-anak mendapat ganjaran dari apa yang tidak mereka lakukan.
Jika
demikian, derita yang menimpa bocah di Ngada itu, juga merupakan ulah
orang dewasa. Ibunya tidak punya uang. Atau kita tidak yakin benar. Mungkin
saja ibunya punya uang, tetapi terdesak oleh kebutuhan lain yang membuatnya
ragu mengabulkan permintaan si anak. Kita punya kebiasaan seperti itu.
Menunda-nunda permintaan anak, hingga waktu yang tepat. Namun, adakah persoalan
itu berhenti sampai di urusan si ibu dan anak?
Tagore melihat peran lingkungan sangat krusial dalam derita anak-anak.
Pertanyaannya adalah lingkungan seperti apa yang dihuni anak tersebut hari-hari
ini? Sistem apa yang menjeratnya?
Selama
bertahun-tahun, India dijajah Inggris. Di Inggris, mesin uap pertama kali
ditemukan, yang kemudian mempermudah bangsa barat melakukan eksplorasi ke
wilayah timur. Eksplorasi tidak pernah berjalan tanpa eksploitasi; dua kata
yang identik dengan kapitalisme atau neo-kapitalisme. Kita tahu ideologi ini,
tidak hanya berlaku di urusan ekonomi saja, tetapi kini merasuki seluruh sektor
kehidupan manusia modern. Bahkan merasuki etika kehidupan bermasyarakat.
Di
bidang politik, kontestasi politik tidak lebih dari pertarungan kekayaan
calon-calon pejabat yang memproduksi kebijakan pro perusahan besar atau
individu kaya dengan sumber daya besar. Di bidang sosial, kapitalisme
memperparah segregasi antara yang kaya dan yang miskin. Di bidang pendidikan, peserta
didik disiapkan untuk masuk ke pasar kerja yang penuh persaingan. Pendidikan
humaniora pelan-pelan digeser oleh ilmu-ilmu teknis. Pendidikan didikte oleh
kebutuhan pasar tenaga kerja. Kerja pun diserahkan kepada pasar. Atau kerja sedang
dan telah menyerahkan diri pada pasar.
Mata
rantai selanjutnya adalah tentang cara orang memandang sesama. Diukur dari produktivitas
mencetak uang. Di sini pasar sudah merangsek ke level etika. Maka apa jadinya
ketika pasien bukan lagi pasien, begitu pun murid bukan lagi murid, atau adik-kakak
bukan lagi keluarga, melainkan hanya ‘klien’ atau ‘pelanggan’ dalam skema
untung-rugi.[i]
Paus Fransiskus menganjurkan agar manusia perlu meninjau ulang makna kerja
pasca-covid. Kerja yang diukur dari laba berakibat glorifikasi pada money
oriented dan menganggap parasit kerja yang tidak menghasilkan laba.
Di
level yang personal ini, manusia makin kehilangan ikatan satu sama lain, dan
mengubah struktur hubungan dalam keluarga maupun dalam masyarakat. Kecendrungan
memiliki dan mengakumulasi menguasai hubungan. Di dalam keluarga, saya sering
mengambil contoh kisah insinyur dengan ibunya yang menderita stroke. Insinyur
ini dihadapkan pada pilihan yang sulit, merawat ibunya atau menyewa seorang
perawat sehingga ia masih bisa pergi bekerja. Insinyur itu akhirnya memilih
menyewa perawat. Pasar melemahkan ikatan dengan ibunya.
Pasar
juga mendikte kehidupan romantis dan seksual. Seorang pemuda yang ingin bertemu
pasangannya kebingungan apakah harus membawa cokelat atau gorengan, atau apakah
lebih baik bertemu di kafe atau di taman kota. Jika mereka akhirnya memutuskan
ke kafe, pasar kembali melakukan pedekate setelah mereka minggat dari
situ, dengan tawaran yang tampaknya tidak bisa ditolak: “Jadilah individu.
Menikahlah. Tidak perlu minta izin orangtua. Bekerjalah. Kami akan memberimu
makan, tempat berlindung, dan pendidikan bagi anak-anakmu. Kami menyediakan
perlindungan, asuransi, dan pensiunan.[ii]”
Kapitalisme sudah lebih dulu menentukan
keputusan itu, melalui jawaban rasional: jika saya tidak mencari uang, siapa
yang akan merawat ibu? Jika saya tidak membawa cokelat, besar kemungkinan cinta
saya ditolak, atau saya hanya memilih bertemu di taman kota di pertemuan yang
pertama. Jika saya bertemu di kafe pun, lebih banyak uang yang harus saya
habiskan ke tokoh fashion, gym, kosmetik, ahli diet, juru rias, dan sebaginya,
karena saya harus datang ke kafe dengan paras ideal menurut pasar.
Mungkinkah
anak kecil dalam kisah di Ngada ini didikte juga oleh kebutuhan pasar dan
sistem yang membiarkan pasar masuk ke pendidikan? Saya sulit menghapus bayangan
tentang si anak yang tiba di sekolah tanpa pena dan buku, lalu masuk ke kelas
dan melihat teman-temannya mengeluarkan pena dan buku dari dalam tas. Bukan
hanya satu buku dan satu pena. Mereka juga punya buku dan pena cadangan. Punya
satu buku dan satu pena sama-sama dibutuhkan dengan punya dua buku dan dua pena.
Keinginan makin sulit dibedakan dari kebutuhan. Dan di dalam kelompok bermain (peer
group), pengaruh teman-teman selalu lebih besar dan benar dibanding
pengaruh siapa pun.
Belakangan
sang anak dan ibunya diketahui tidak ber-KTP Ngada, melainkan ber-KTP Nagekeo.
Hal ini berkonsekuensi pada instrumen bantuan pemerintah yang hanya bisa
diterima di Nagekeo. Politik dokumen memaksa dan menempatkan orang pada
kotak-kotak domisili. Kita boleh berkata, anak dan ibunya salah karena tidak
segera memperbaharui dokumen-dokumen kependudukan, tetapi apa yang bisa mereka
lakukan ketika seragam-seragam petugas lebih dulu menempatkan mereka pada
posisi inferior. Lagi-lagi, kekayaan dan status telah membentuk mental
sekaligus moralitas seseorang. Nieztche membedakannya menjadi moralitas budak
dan moralitas tuan. Sopan dan berlaku baik dianggapnya sebagai moralitas budak,
sedangkan sombong, kasar, dan lain-lain dianggap sebagai moralitas tuan.
Tagore
pada akhirnya benar, tekanan lingkungan menciptakan penderitaan pada anak-anak.
Namun, ia perlu memeriksa model lingkungan itu. Sebab dua abad terakhir, kehidupan
manusia tidak lagi dibentuk oleh tiga
bingkai kuno dalam bahasa Yuval Noah Harari, yaitu keluarga inti, keluarga
besar, atau masyarakat lokal yang akrab. Melainkan oleh lingkungan individualistik
yang digerakkan roda-roda pasar dan negara. Jika pada zaman dahulu keluarga
merupakan sistem penunjang kebutuhan, hari-hari ini sistem itu adalah pasar dan negara. Tidak
heran, seorang anak kecil yang sebenarnya tinggal jauh dari keriuhan pasar, dengan
mudah mengambil suatu keputusan yang absurd. Di sana, ikatan-ikatan tradisional
kita benar-benar porak-poranda. Anak itu tetap menyatukan orang dewasa, tetapi
dengan cara yang ironis.
